Jumat, 10 Mei 2013

ini teh atau susu???





*** INI TEH SUSU??

Hampir tidak ada yang berbeda dengan perasaan orang tua lainnya yang baru merasakan pengalaman luar biasa dalam hidupnya, ya rasa haru, bahagia, tiada perasaan yang bisa digambarkan seunik ini. Sepasang suami istri disebuah sudut ruangan rumah sakit bersalin sambil bertasbih yang tak henti-hentinya lirih keluar dari mulut sang suami sembari memandangi kening serta sesekali mengusap pipi istri tercinta “ terimakasih sayang … karena hari ini kau menjadikanku seorang suami sejati sekaligus ayah. Alhamdulillah anak kita laki-laki beratnya 3,75 Kg “ ujar sang suami.

Pemandangan lain pun datang dari sebelah ranjang pasien, seorang ibu setengah baya menangis seorang diri sambil menyusui bayi perempuan yang seminggu lalu dilahirkannya, berbeda dengan pasien lainnya yang ditemani suami serta family maka ia mengapa tak seorangpun anggota keluarga sudi sekedar menjenguk. Meski badan masih terasa sakit dibantu dikuatkan dengan sisa-sisa obat bius sang istri yang baru beberapa jam keluar dari ruang operasi tak mampu menghalangi batinnya untuk tidak merasa iba, naluri keibuaanya yang baru saja ia rasakan keluar dari layar yang baru saja ia saksikan langsung tepat didepan matanya dia yakin betul hal ini bukan setingan sang sutradara, kemudian seorang perawat yang menggunakan jilbab itu mendatanginya dengan tak sungkan lagi karena mungkin sudah biasa seperti itu “ ibu… katanya, waktu ibu sudah lewat dari lima hari sebaiknya segeralah suami ibu datang ke bagian administrasi untuk membayar biaya rumah sakit, tidak apa-apa bayinya ditinggalkan disini sebagai jaminan kalau nanti sudah dilunasi bayi ini boleh dibawa pulang”. Astagfirullah sekali lagi ini sungguh nyata, setelah itu keluarga pasien dari ibu yang melahirkan dua anak kembar kemudian mengusap punggungnya sambil berpamitan, entah apa yang dibisikkannya barang kali semacam kata-kata menenangkan sembari bersalaman dan menyelipkan uang diselimut bayi mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit.

Beberapa hari menyaksikan hal tersebut membuat sang istri memaksakan badannya turun dari ranjang, bukan hal mudah bagi pasien pasca operasi cesar bisa menuruni ranjang yang terasa begitu tinggi akh … rasanya lebih baik menuruni anak gunung. Perlahan sambil menghampiri tatapan mata yang tak berujung itu untuk ruangan yang sangat sempit, dia mencoba menyelami perasaan seorang hamba Allah yang tengah dirundung duka wajah sumbringah tapi jauh dilubuk hatinya dia menyimpan pilu yang begitu dalam. Oh Rabb semesta alam … pantas saja ibu itu tak ditemani keluarga satupun ternyata suaminya sedang mencari pinjaman untuk bisa keluar dari rumah sakit beserta bayinya, dia datang dari sebuah desa di bagian barat kota Bandung tadinya dia ditangani oleh dukun beranak di desanya hanya saja karena pendarahan yang begitu hebat maka dilarikanlah ke dokter terdekat hanya saja kondisi lemahnya membuat dokter terpaksa merujuknya untuk segera dioperasi di rumah sakit yang lengkap dengan peralatan yang dibutuhkan, dari sanalah suaminya kebingungan begitupun dengan family yang lain tak perduli dengan keadaan mereka karena sama miskinnya. Rasanya remuk hati ini mendengar kisah pilu itu lebih terasa sakit dari luka operasi yang dirasakan beberapa hari lalu.

Kondisi suami istri ini sama halnya dengan ibu malang itu, harus membayar biaya operasi sebesar lima setengah juta. Lima hari berlalu dirumah sakit akhirnya sang suami wajib membayar lunas biaya tersebut yang didapat dari pinjaman kantor kemudian mereka bergegas menuju kontrakan yang sudah tergelar karpet aladin tepat diruang tamu nan mungil.

Jika ada istilah seribu derajat maka ini cukup untuk menggambarkan kehidupan mereka yang memang berubah drastis, sang istri tak bisa lagi leluasa memasak, mencuci, bahkan makan sesuka hati kini ada seorang bayi yang membutuhkan gendongan hampir separuh hari, maka tatkala itu ba’da subuh setelah sang suami menunaikan shalat berjama’ah di masjid dekat kontrakan sang istri meminta segelas susu hangat.

Bukan dari keluarga pebisnis bukan pula politikus sang suami sebenarnya lahir dari keluarga petani sederhana untuk kuliah saja dia harus mencari sendiri bahkan untuk menikah semua diusahakannya seorang diri. Mungkin saja hasil dari pengalaman hidupnya yang serba mandiri banyak ilmu yang didapatkannya termasuk ilmu siasat, sepertinya ada pengalaman luar biasa yang pernah dialaminya sehinggga pelajaran otodidak ini begitu penuh penghayatan dari lubuk hatinya.

Manakala saat itu ketika sang istri meminta segelas air susu hangat maka ilmu siasat tersebut mulai dipraktekkannya. Diatas meja terdapat dua jenis susu, dus pertama produk susu untuk bayi sedangkan dus berikutnya susu khusus untuk ibu menyusui. Entah ilmu dari mana lagi seketika sang suami berfikir dengan sangat cerdas siapa lagi yang akan menghabiskan susu bayi sementara kadarluasanya segera habis sedangkan susu itu dibeli karena kebutuhan terdesak pada saat sang istri belum pulih untuk bisa menyusui, saran dokter jika sudah sampai di rumah maka bayi jangan lagi diberi susu formula tersebut. Maka dengan cekatan dicampurkannya kedua susu itu sambil mencuri-curi pandangan sang istri, untung saja jantungnya tidak copot saat itu karena menahan gugup pada saat mencampur. Selesai membuat sang istri disuruh segera minum dengan cepat, namun sayang lidah sang istri begitu sensitif sehingga merasakan hal lain dalam segelas susu penuh cinta tersebut, kemudian sambil menahan mual dia bertanya “ kang ini susu yang mana? Kok aneh ya rasanya …” sambil menunjuk malu-malu dan telunjuk menunjuk sengaja tidak fokus maka dijawabnya “ itu … susu … yang itu … itu … “ mendengar jawaban itu maka sang istri meminta agar suaminya lah yang menghabiskan segelas susu hangat yang baru saja dibuat, setelah menghabiskannya maka seketika sang suami segera berlari kebelakang.

Tidak ingin berbohong, dan tidak pula mau terjadi mubadzir atas dasar itulah sang suami melakukan kisah “ini teh susu??”

Selesai …

By HasanSepta